Setiap presiden berpidato, kiamat maju satu hari.
Aku tidak bercanda.
Serius.
Ampuh.
Sudah berkali-kali terbukti.
Setiap kali ia berdiri di podium, dengan jas mahal dan wajah seperti orang yang baru saja memaafkan dosa seluruh bangsa, aku tahu satu hal:
dunia ini sedang dipersingkat.
Bukan karena pidatonya menakutkan.
Justru karena terlalu manis.
Negara ini aneh.
Kalau presiden bilang rakyat sejahtera, biasanya orang mulai jual motor.
Kalau presiden bilang ekonomi kuat, biasanya UMKM mulai ngutang gas.
Kalau presiden bilang masa depan cerah, biasanya listrik mati tanpa pemberitahuan.
Aku menonton pidato itu seperti menonton laporan cuaca kiamat.
“Pertumbuhan meningkat.”
Seorang buruh di sebelah rumahku—sebut saja Bunga—di-PHK.
“Stabilitas terjaga.”
Tetanggaku menjual sawahnya untuk bayar rumah sakit.
“Kita bangsa yang besar.”
Anak-anak muda antre kerja dengan ijazah yang sudah seperti tiket undian.
Tepuk tangan.
Selalu ada tepuk tangan.
Aku tidak tahu siapa yang bertepuk tangan itu.
Mungkin orang-orang yang terlalu kenyang untuk mendengar perut kosong.
Atau mungkin tepuk tangan itu hanya efek suara.
Seperti di acara komedi.
Yang lucu, pidato presiden selalu bicara tentang masa depan.
Masa depan bangsa.
Masa depan ekonomi.
Masa depan generasi muda.
Seolah masa depan itu masih ada di gudang negara.
Padahal kenyataannya masa depan sudah digadaikan sedikit demi sedikit:
oleh rapat-rapat panjang,
oleh proyek-proyek raksasa,
oleh program yang namanya bagus tapi nasibnya samar.
Hari ini ada program makan gratis.
Besok genteng mau diganti seragam nasional.
Lusa badan baru dibentuk lagi untuk mengurus sesuatu yang sebenarnya sudah ada.
Negara ini seperti orang yang terus membeli lemari baru
untuk menyimpan kekacauan yang lama.
Pidato terus berjalan.
Grafik naik.
Istilah baru lahir.
Badan baru dibentuk.
Musuh baru diumumkan.
Sahabat lama tiba-tiba dipeluk lagi.
Sementara rakyat?
Tetap menonton.
Aku pernah berpikir:
mungkin kiamat tidak datang sebagai meteor.
Tidak.
Kiamat di negeri ini datang sebagai pidato resmi.
Dgn mikrofon.
Dgn layar LED.
Dgn kalimat yang sudah dipoles staf komunikasi.
“Sdara-saudara sebangsa dan setanah air…”
Begitu kalimat itu dimulai, aku selalu merasa kalender dunia dicoret satu hari lagi.
Kiamat maju.
Pelan-pelan.
Bukan dengan ledakan.
Tpi dengan kalimat yang trlalu percaya diri.
Bukan dengan kehancuran.
Tapi dengan optimisme yang terlalu rapi.
Dan yang paling menyedihkan
rakyat masih menonton sampai selesai.
Karena di negeri ini,
bahkan kiamat pun
harus disampaikan dulu
dalam pidato kenegaraan.
Disiarkan live.
Dengan tepuk tangan.





