🎭OPEN CALL KONTRIBUTOR| Kirimkan esai, puisi, atau ulasan pertunjukan Anda ke Redaksi!KIRIM NASKAH →

Lanjong Indonesia: Menyusuri Akar hingga Ranting Kesenian

Sahurmayur #14

Lanjong Sahur Mayur

TENGGARONG — 7 maret di tengah malam Ramadan yang biasanya dipenuhi kesunyian dan aroma dapur sahur, ruang kebudayaan justru menemukan denyutnya. Melalui program Sahurmayur #14, Lanjong Indonesia menghadirkan sebuah peristiwa seni lintas disiplin yang berlangsung di Amphitheater Ladaya, Tenggarong, pada malam Ramadan pekan ini.

Lanjong Indonesia: Menyusuri Akar hingga Ranting Kesenian

Kegiatan bertema “Akar Sampai” tersebut mempertemukan musik, tari, teater, dan pidato kebudayaan dalam satu rangkaian acara yang berlangsung hingga menjelang waktu sahur.
“Tema Akar Sampai kami pilih sebagai metafora perjalanan kesenian. bagaimana ia tumbuh dari akar tradisi lalu menjalar menjadi cabang-cabang baru,” kata Fahrul Yamani, pimpinan produksi Sahurmayur #14, ketika ditemui seusai acara.

Menurut Fahrul, Sahurmayur bukan sekadar hiburan malam Ramadan, tetapi ruang temu bagi seniman lintas generasi untuk membaca kembali posisi seni di tengah masyarakat.
“Kami ingin menjadikan Ramadan bukan hanya ruang spiritual, tetapi juga ruang refleksi kebudayaan,” ujarnya.
Musik: Tradisi yang Bernafas Baru

Salah satu daya tarik Sahurmayur #14 adalah keberagaman kelompok musik yang tampil.
Kelompok Ratna Citra membuka panggung dengan pendekatan indie folk yang mengolah musik tingkilan dalam balutan modern. Penampilan mereka diawali monolog dari Nala Arung—yang disebut sebagai godfather kelompok tersebut—tentang pertanyaan jenaka: mengapa Superman mengenakan celana di luar.
Kelompok yang terbentuk pada 2025 itu tampil dengan delapan pemusik dan dua vokalis, menghadirkan lagu-lagu bernuansa rindu dan nostalgia.
Sementara itu, band UTTHANA dari Samarinda membawa eksplorasi berbeda. Beranggotakan enam mahasiswa etnomusikologi Universitas Mulawarman, mereka menggabungkan folk alternatif dengan unsur etnik Nusantara.
Nama Utthana, yang berarti “bangkit”, mencerminkan filosofi mereka tentang musik sebagai perjalanan kesadaran manusia.
“Musik bagi kami bukan sekadar bunyi, tapi pengalaman emosional,” ujar salah satu personel band tersebut di sela pertunjukan.
Kelompok Petala Borneo Indonesia dari Tenggarong juga tampil dengan warna tersendiri. Mereka memadukan musik Melayu Kutai dengan instrumen modern, sekaligus menyisipkan narasi sejarah lokal dalam komposisi mereka.

Tubuh sebagai Arsip
Pada segmen tari, koreografer Marie M menghadirkan karya yang menempatkan tubuh sebagai arsip pengalaman.
Ia tampil bersama Dans Z, kolektif penari generasi Z dari Tenggarong yang menggabungkan gerak tradisi dengan eksplorasi kontemporer.
Bagi Marie, tubuh bukan sekadar medium estetika.
“Tubuh menyimpan ingatan sosial, ritual, bahkan trauma. Di panggung, semua itu bisa dibaca kembali,” ujarnya.

Teater: Tepuk Tangan Terakhir
Menjelang tengah acara, panggung diisi dengan pertunjukan teater “Tepuk Tangan Terakhir”, produksi Lanjong Indonesia.
Pertunjukan ini menggunakan pendekatan meta-teater, di mana panggung tidak hanya menjadi ruang cerita tetapi juga refleksi tentang dunia teater itu sendiri.
Aktor, sutradara, penata lampu, hingga pemusik tampil sebagai bagian dari narasi yang saling berkelindan.
Pertunjukan tersebut mempertanyakan posisi seniman di tengah masyarakat: apakah mereka masih didengar, atau sekadar menunggu tepuk tangan yang mungkin tak pernah datang.

Pidato Kebudayaan
Salah satu momen penting malam itu adalah pidato kebudayaan oleh Dadang Ari Murtono.
Dalam pidatonya, Dadang menekankan pentingnya membaca kembali akar kebudayaan di tengah percepatan zaman.
“Kesenian tidak boleh hanya menjadi dekorasi budaya. Ia harus tetap menjadi ruang kritik, refleksi, dan pengingat identitas,” kata Dadang.
Pidato tersebut menjadi jembatan konseptual bagi tema Akar Sampai yang diusung dalam Sahurmayur tahun ini.

Ekosistem Seni
Ketua Lanjong Indonesia, Kosis A Horen, mengatakan Sahurmayur merupakan upaya membangun ekosistem kesenian yang berkelanjutan.
“Setiap tahun kami mencoba mempertemukan berbagai disiplin seni. Tujuannya agar seniman bisa saling belajar dan publik melihat bahwa kesenian daerah terus bergerak,” kata Kosis.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk berani bereksperimen tanpa meninggalkan akar tradisi.

Acara tersebut tidak hanya dihadiri masyarakat Tenggarong, tetapi juga penonton dari berbagai daerah di Kalimantan Timur.samarinda- sanga sanga dan daerah sekitarnya
Salah satunya Risky devi, penonton yang datang dari Balikpapan.
“Saya datang karena penasaran dengan konsep sahur sambil menikmati pertunjukan seni. Ternyata atmosfernya hangat sekali. Rasanya seperti sahur di tengah festival budaya,” ujar Risky devi
Ia berharap kegiatan seperti ini dapat terus diadakan setiap Ramadan.

Menuju Sahur
Menjelang sahur, suasana Amphitheater Ladaya masih dipenuhi percakapan seniman, mahasiswa, dan penonton.
Sahurmayur #14 akhirnya berakhir bukan sekadar sebagai rangkaian pertunjukan, tetapi sebagai ruang perjumpaan gagasan.

Seperti tema yang diusungnya, kesenian malam itu tampak berakar pada tradisi namun terus menjulur ke cabang-cabang baru yang lebih luas.

Tim Fourthwall
Tim Fourthwall

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.Ruas yang wajib ditandai *