🎭OPEN CALL KONTRIBUTOR| Kirimkan esai, puisi, atau ulasan pertunjukan Anda ke Redaksi!KIRIM NASKAH →

Bukan Lawan Main, Melainkan Teman Main

Bukan lawan maib

Catatan tentang Ansambel dalam Kerja Aktor

 

Di dalam praktik teater kita mengenal istilah yang sangat umum yaitu lawan main. Istilah ini begitu lazim hingga jarang sekali dipertanyakan. Ia dipakai di ruang latihan, di panggung, bahkan di ruang akademik ketika membicarakan relasi antar aktor dalam sebuah adegan.

 

Namun bagi saya, istilah itu selalu terasa sedikit bermasalah.

Kata lawan membawa konotasi pertentangan. Dalam pengertian bahasa, ia menunjuk pada relasi yang bersifat konfrontatif .. saling berhadapan, saling menantang, bahkan saling menyerang. Secara psikologis, kata ini membangun imajinasi bahwa seseorang yang berdiri di depan kita adalah pihak yang harus dihadapi, ditaklukkan, atau paling tidak diimbangi kekuatannya.

Padahal panggung teater tidak pernah benar-benar bekerja dengan logika semacam itu.

Karena di panggung, yang sesungguhnya terjadi bukanlah duel, melainkan permainan bersama.

Itulah sebabnya saya lebih senang menggunakan istilah teman main.

Perubahan istilah ini mungkin tampak kecil. Tetapi dalam praktik keaktoran, ia memiliki implikasi yang cukup besar. Ketika seorang aktor memandang orang di depannya sebagai lawan, ia cenderung bekerja dengan logika menyerang. Dialog menjadi alat untuk mengungguli. Emosi menjadi cara untuk mendominasi. Adegan berubah menjadi arena unjuk kekuatan.

Akibatnya, yang muncul sering kali bukan dialog, melainkan interogasi.

Bukan relasi, melainkan kompetisi.

Di titik inilah konsep ansambel menjadi penting.

Dalam teori teater modern, ansambel dipahami sebagai kesatuan kerja kolektif di mana setiap aktor tidak berdiri sebagai pusat yang terpisah, melainkan sebagai bagian dari organisme artistik yang sama. Gagasan ini dapat kita temukan, misalnya, dalam praktik Bapak Konstantin Stanislavski di Moscow Art Theatre, yang menekankan bahwa kehidupan panggung lahir dari hubungan organik antaraktor. Aktor tidak bermain sendirian; ia hidup karena respons dari aktor lain.

Hal yang sama juga tampak dalam pendekatan Kang Mas Jerzy Grotowski, yang melihat teater sebagai pertemuan intens antara manusia dengan manusia. Dalam kerangka ini, aktor tidak sedang menunjukkan dirinya, melainkan membuka diri terhadap kehadiran orang lain di ruang yang sama.

Jika kita melihatnya secara filosofis, relasi ini sebenarnya lebih dekat dengan konsep intersubjektivitas yang banyak dibicarakan dalam fenomenologi terutama oleh Maurice Merleau-Ponty. Dalam pandangan ini, keberadaan manusia selalu terjalin dengan keberadaan manusia lain. Kesadaran tidak berdiri sendirian ia selalu lahir dari hubungan.

Panggung teater bekerja dengan prinsip yang sama.

Seorang aktor tidak pernah benar-benar hidup sendirian di panggung.. monolog sekalipun..Ia menjadi hidup justru karena kehadiran orang lain yang meresponsnya. Energi adegan tidak berasal dari satu tubuh, melainkan dari pertemuan antar tubuh, antar kesadaran, antar intensitas.

Karena itu, dalam kerja ansambel, seorang aktor tidak sedang berusaha menjadi yang paling menonjol. Ia justru berusaha menjadi bagian dari aliran energi yang sama.

Dalam musik, kita bisa melihat analoginya dengan mudah. Sebuah orkestra tidak bekerja melalui kompetisi antar instrumen. Biola tidak melawan piano, dan klarinet tidak berusaha mengalahkan cello, gitar tidak memfitnah terompet. Mereka saling menjaga ritme agar komposisi tetap utuh.

Teater pun demikian.

Seorang aktor yang terlalu sibuk menjadi pusat perhatian sering kali justru merusak keseimbangan adegan. Ia mungkin terlihat kuat secara individual, tetapi panggung kehilangan harmoni kolektifnya. Sebaliknya, aktor yang memahami prinsip ansambel sering kali mampu membuat adegan menjadi hidup tanpa perlu menunjukkan keunggulannya secara berlebihan.

Dalam pengertian ini, akting bukanlah seni untuk menang, melainkan seni untuk berbagi kehidupan panggung.

Maka ketika seseorang bertanya kepada saya tentang siapa lawan main dalam sebuah pementasan, saya sering kali merasa perlu melakukan koreksi kecil

“Bukan lawan main.

Teman main.”

Dengan nada lembut sebab bagi saya, panggung bukan tempat manusia saling mengalahkan. Ia adalah ruang di mana manusia belajar hidup bersama dalam permainan yang jujur.

Dan mungkin di situlah teater menemukan maknanya yang paling sederhana sekaligus paling mendalam

bahwa kehidupan, seperti juga panggung, hanya bisa benar-benar terjadi ketika kita berhenti melihat orang lain sebagai lawan dan mulai menganggapnya sebagai teman bermain dalam satu ansambel kehidupan…

 

“Jika kau melihat orang di panggung sebagai lawan,

adegan berubah menjadi perkelahian.

Jika kau melihatnya sebagai teman,

adegan berubah menjadi kehidupan.”..

 

Ab Asmarandhana

fourthwall
fourthwall

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.Ruas yang wajib ditandai *