🎭OPEN CALL KONTRIBUTOR| Kirimkan esai, puisi, atau ulasan pertunjukan Anda ke Redaksi!KIRIM NASKAH →

Indonesia Belajar Dari Nenek Moyang Tiri

Nenek moyang

Indonesia seperti dididik oleh nenek moyang tiri.

Bukan dengan pelukan imajinasi, tetapi dengan ancaman.

Sejak kecil telinga kita dijejali kalimat yang sama:

“Jangan nakal, nanti ada hantu.”

“Jangan melawan, nanti masuk neraka.”

“Jangan macam-macam, nanti ditangkap polisi.”

Tiga penjaga masa kecil itu selalu sama:

hantu, neraka, dan aparat.

Anak-anak pun tumbuh bukan dengan keberanian berpikir,

tetapi dengan kecerdikan untuk menghindari rasa takut.

Maka tidak heran jika cita2 ana2 kita terbaca begitu jelas.

Yg otaknya pas-pasan bercita-cita menjadi tentara atau polisi

bukan semata untuk melindungi negara,

tetapi agar hidupnya tidak lagi berada di posisi yang ditakut-takuti.

Yang otaknya sedikit lebih terang menjadi dokter atau insinyur

profesi yg dianggap pasti, berguna, dan menjanjikan masa depan.

Tetapi hampir tidak pernah kita mendengar orang tua berkata dengan bangga

“Anakku ingin menjadi seniman.”

Bukan karena seni tidak penting.

Justru karena sejak awal kita dididik untuk takut,

bukan untuk membayangkan.

Padahal imajinasi adalah salah satu ciri tertinggi manusia.

Tanpa imajinasi, manusia hanya menjadi makhluk yang patuh.

Ia taat, tetapi tidak berpikir.

Ia tertib, tetapi tidak memahami.

Di sinilah seni menjadi penting.

Teater adalah ruang purba tempat manusia berlatih menjadi manusia.

Di atas panggung, kita belajar menertawakan kekuasaan tanpa harus menjadi pemberontak.

Kita belajar menggugat moral tanpa harus menjadi penjahat.

Kita belajar merasakan penderitaan orang lain tanpa harus mengalaminya sendiri.

Teater adalah sekolah empati.

Namun ironinya, di negeri yang begitu kaya cerita rakyat, legenda, dan mitos,

kita justru kekurangan guru seni budaya.

Sekolah seni sering kali hanya menghasilkan lulusan,

bukan seniman.

Padahal bangsa yang kehilangan seni

sebenarnya sedang kehilangan salah satu cara berpikir yang paling manusiawi.

Ketika seni tidak dihargai,

yang tumbuh bukan imajinasi

tetapi kemarahan.

Lihatlah sekeliling kita hari ini.

Perdebatan publik mudah berubah menjadi makian.

Perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan.

Orang cepat tersinggung, tetapi lambat memahami.

Itu tanda masyarakat yang miskin latihan empati.

Seni seharusnya menjadi ruang latihan itu.

Tempat kita belajar menjadi orang lain sebelum menilai orang lain.

Sayangnya, harapan kepada pemerintah untuk merawat seni sering terasa seperti menunggu hujan di musim kemarau.

Anggaran kebudayaan kecil, kebijakan sering berubah,

dan perhatian lebih banyak diberikan pada proyek yang terlihat megah daripada yang membentuk jiwa.

Maka mungkin sudah waktunya masyarakat berhenti terlalu berharap.

Jika pemerintah tidak mampu merawat seni,

maka masyarakatlah yang harus melakukannya.

Datanglah ke pertunjukan teater.

Dukung kelompok-kelompok kecil yang berlatih di gang sempit.

Hargai guru seni di sekolah yang sering dianggap pelengkap kurikulum.

Biarkan anak-anak mengenal panggung, bukan hanya layar ponsel.

Karena setiap masyarakat yang besar

selalu lahir dari imajinasi yang besar.

Tentara menjaga batas negara.

Dokter menjaga tubuh manusia.

Insinyur membangun jembatan dan gedung.

Tetapi seniman menjaga jiwa sebuah bangsa.

Tanpa seniman, bangsa mungkin tetap berdiri,

tetapi ia akan berdiri seperti tubuh tanpa mimpi.

Dan mungkin suatu hari nanti,

Ketika anak-anak Indonesia ditanya tentang cita-cita mereka,

kita tidak lagi hanya mendengar:

“aku ingin jadi polisi.”

“aku ingin jadi tentara.”

Tetapi juga dengan bangga bilang

“ Aku ingin menjadi

Mimpi indah dalam tidurmu

Aku ingin menjadi sesuatu

Yang mungkin bisa kau rindu

Karena hanya bangsa yang berani bermimpi

yang berani benar-benar hidup.

Dan seni

adalah tempat manusia belajar mimpi itu menjadi kenyataan.

Tim Fourthwall
Tim Fourthwall

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.Ruas yang wajib ditandai *