🎭OPEN CALL KONTRIBUTOR| Kirimkan esai, puisi, atau ulasan pertunjukan Anda ke Redaksi!KIRIM NASKAH →

Monolog Pertama

monolog pertama

monoloh
monolog pertama

TUBUHKU BUKAN PERATURAN”

aku hampir dipecat.
Bukan karena mencuri.
Bukan karena menyunat anggaran sampai tinggal tulang.
Bukan karena proyek jalan berubah jadi kolam lele setiap hujan.
Tapi karena…
kulitku bergambar.
Negara sebesar ini,
ternyata bisa gemetar
oleh tatto Lucu.
Kita kebal pada korupsi.
Tapi alergi pada tatto ..
Katanya pemimpin harus bersih.
Bersih seperti apa?
Seperti tangan yang tak pernah kerja?
Seperti wajah yang licin karena tak pernah mikir?
Atau seperti laporan yang rapi… karena dihapus jejaknya?
Aku ini kepala desa.
Desa, Tuan.
Bukan studio foto pejabat.
Di desaku, ayam berkokok lebih jujur dari rapat.lele yang berkumis
Sawah lebih setia dari baliho.
Air cuma mengalir kalau pipa dibetulkan,
bukan kalau doa dibacakan di depan kamera.
Dan aku membetulkannya.
Di punggungku ada burung.
Itu bukan kenakalan.
Itu janji.
Bahwa desa ini harus terbang,
bukan merangkak sambil menunggu bantuan.
Di lenganku ada sawah.
Supaya aku ingat
pemimpin itu bukan pajangan di dinding kantor,
tapi benih yang harus ditanam,
walau keringatnya bau tanah.
Di betisku ada sungai.
Agar aku tak lupa,
kalau aliran macet, rakyat haus.
Dan haus tidak bisa disidang.
Tapi mereka tak membaca makna.
Mereka cuma melihat kulit.
Seolah tinta lebih berbahaya
daripada kelalaian.
Seolah gambar lebih jahat
daripada kerakusan.
Aku tak pantas, katanya.
Tak layak.
Layak itu apa?
Apakah kelayakan diukur dari epidermis?
Kalau begitu, jeruk lebih bermoral dari manusia.
Karena kulitnya mulus,
walau isinya bisa busuk.
Warga datang kepadaku bukan untuk diskusi estetika.
Mereka datang dengan wajah lelah.
“Pak, pupuk kapan turun?”
“Pak, anak saya bisa lanjut sekolah?”
“Pak, kenapa listrik padam terus?”
Tak ada yang bertanya,
“Pak, tato bapak yqng cucuk ikan kpk gak ada ?”
Karena mereka tahu
hidup bukan lomba kesucian kulit.
Kalau aku mencuri, tangkap aku.
Kalau aku gagal, copot aku.
Kalau aku korupsi, penjarakan aku.
Tapi kalau dosaku cuma tinta,
maka yang diadili bukan aku
tapi akal sehat kita.
Tato adalah ekspresi.
Korupsi adalah kejahatan.
Jangan disamakan.
Jangan dibodoh-bodohkan.
Kalian takut pada gambar?
Atau takut pada orang yang tak bisa kalian kendalikan?
Kadang aku berpikir…
tubuhku ini seperti desa.
Ada bekas luka.
Ada cerita.
Tak simetris.
Tak steril.
Tapi hidup.
Dan hidup selalu berantakan.
Kalau hari ini aku harus mundur
karena tinta di kulitku,
aku akan pergi tanpa drama.
Karena tinta bisa dihapus.
Laser bisa bekerja.
Tapi jalan yang sudah kuaspal
tak bisa kalian sangkal.
Air yang sudah mengalir
tak bisa kalian bantah.
Sekolah yang berdiri
tak bisa kalian hapus pakai sidang.
Yang perlu dibersihkan mungkin bukan tubuhku.
Tapi cara kita melihat manusia.
Kita terlalu sibuk mengelap kulit,
sampai lupa membersihkan nurani.
Dan mungkin…
yang sebenarnya kotor
bukan tintaku.
Tapi ketakutan kalian.
Tubuhku bukan peraturan.
Dan nuraniku
tidak butuh izin untuk jujur.

fourthwall
fourthwall

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.Ruas yang wajib ditandai *